Biografi Rektor Universitas Ubudiyah Indonesia

| 11-05-2015   16:03:46 WIB

Marniati SE MKes lahir di Lhok Nibong, Kabupaten Aceh Timur pada 25 Mei 1981, di tengah keluarga yang memiliki perpaduan kuat antara dimensi keislaman dan spirit keusahawanan yang tinggi. Dua fondasi dasar keluarga yang kemudian membentuk kepribadian Marniati ketika kemudian beranjak dewasa.

Bagi Marniati, kedua orang tuanya benar-benar menjadi madrasah pertama bagi kehidupannya. Dari keluargalah dia menyerap berbagai bekal pengetahuan dan skill yang kemudian mempertajam visi dan kemampuannya dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi. Ia “mewarisi” semua itu dari sosok sang ayah Tgk M Yunus Saat dan Ibu Nurhayati. Kedua orang tuanya berasal dari Delima, Kabupaten Pidie, daerah yang dikenal memiliki spirit usahawan yang tinggi.

Pelajaran yang didapatinya adalah tentang keseimbangan hidup antara ubudiyah dan mu’amalat. Tentang bagaimana berhubungan dengan Allah sang khalik dan pada saat bersamaan juga dia mendapatkan bimbingan bagaimana mengarungi kehidupan. Ia misalnya mempelajari bisnis dari sejak usia sekolahan ketika mendapat kesempatan membantu orang tuannya berjualan di warung makan milik keluarga. Dari sini, Marniati sudah mulai belajar bagaimana mencatat dan di senja hari kemudian menghitung jumlah pendapatan yang bisa didulang.

Dia menyelesaikan pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di daerah kelahirannya Lhok Nibong. Pada tahun 1990 ia resmi ditabalkan sebagai lulusan SDN 1 Lhok Nibong, menyusul kemudian pada tahun 1993 ia berhasil merampungkan pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Lhok Nibong. Tiga tahun kemudian, ia menuntaskan perjalanan wajib belajar 12 tahunnya di SMAN 1 Lhok Nibong. Semasa di sekolah, wanita  yang bersuamikan Dedi Zefrizal ST (Ketua Yayasan U’Budiyah) aktiv di berbagai organisasi intrasekolah seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) maupun kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra). Malah di OSIS SMAN 1 Lhok Nibong ia pernah menempati posisi sebagai sekretaris.

Pada tahun yang sama seusai menamatkan pendidikan SMA, Marniati kemudianmelanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Niatannya itu direstui kedua orang tuanya. Ia kemudian memantapkan langkahnya untuk mendapatkan satu tempat di perguruan tinggi negeri kendati untuk itu harus bersaing ketat dengan calon mahasiswa lainnya di seluruh Aceh bahkan nasional.

Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapat tempat di Unsyiah, hasil pengumuman UMPTN ia dinyatakan lulus di FMIPA Biologi Unsyiah. Setelah satu semester menjalani perkuliah di jurusan ini, Marniati merasa tak betah. Ia merasa tak punya chemistry dengan bidang ilmu yang tengah digelutinya itu. Alhasil, ia pun menjajal kesempatan peluang baru di UMPTN tahun berikutnya, kali ini ia lulus di Program Akuntansi Fakultas Ekonomi, Unsyiah.

Di Akuntansi Marniati seakan menemukan kembali ruh dan jiwa keilmuannya yang selama ini secara alami telah melekat pada dirinya; jiwa kewiraswastaan (entrepreneurship). Semasa kuliah, ia tinggal bersama abangnya di kawasan pertokoan Jalan Panglima Polem, Peunayong. Di sini, ia mendapat kesempatan untuk mengasah ketajaman intusi bisnis dengan membantu pembukuan dan keuangan di outlet distribusi dan penjualan telepon genggam (hand phone) milik abangnya. Kegiatan ini acap dilakoninya sepulang dari kegiatan perkuliahan. Selain mengelola keuangan, ia juga mengurusi masalah sumber daya manusia (SDM) para karyawan outlet hp tersebut.

Marniati yang juga menjabat Wakil Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Aceh ini merampungkan studi sarjananya pada tahun 1999, setelah berhasil mempertahankan skripsinya yang berjudul : Pengaruh Penetapan Good Corporate Governance pada Perbankan di Aceh.

Pada Mei 2005, Marniati melangsungkan pernikahan dengan Dedi Zefrizal ST. Kendati dalam posisi serba terbatas dan kekurangan setelah dilanda musibah gempat dan tsunami,  keduanya dilingkupi kebahagiaan. Kebahagiaan mereka kian lengkap setelah dikaruniai seorang anak yang diberi nama Devin Caisario Zefrizal pada 2006. Kini Devin bersekolah di SD Bunga Matahari Internasional.

Karir di STIKES U’Budiyah diawalinya setelah sang suami Dedi Zefrizal ST yang juga Ketua Yayasan U’Budiyah mengajaknya ikut ambil bagian membenahi STIKES setelah mengalami kerusakan parah akibat dihantam gempa dan gelombang tsunami. Awalnya, ia dipercayakan sebagai staf bagian administrasi dan keuangan plus sebagai cleaning service yang sehari-hari membersihkan ruangan kelas yang bertempat di salah satu rumah took (ruko) di kawasan Lamnyong, Banda Aceh.

Kepiawaiannya dalam menata administrasi dan keuangan membuatnya kemudian dipromosikan menjadi Pembantu Ketua II STIKES U’Budiyah. Ketika itu, tugas pokok yang diembannya kian bertambah, tak hanya menangani soal administrasi dan keuangan tetapi juga merekrut dosen-dosen untuk mengajar di U’Budiyah. Sebagai figur muda ketika itu, dia menyadari kalau keberadaannya di dunia pendidikan masih belum berpengalaman dan tidak memiliki reputasi yang tinggi. Kesadaran itu ternyata menjadi penyemangat untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Hingga sampailah pada satu momentum di tahun 2007, ketika pertama kali ia mengeluarkan gagasan untuk mendirikan Rumah Sakit U’Budiyah. Dengan dukungan penuh dari sang suami Marniati mulai menggagas pembangunan Rumah Sakit U’Budiyah. Gagasan itu ternyata disambut positif oleh berbagai kalangan baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Bahkan kalangan perbankan juga ikut memberikan dukungan pembiayaan seperti yang dintunjukkan oleh Bank Syariah Mandiri. Tetapi, ada satu hal yang mengganjal saat itu, wanita yang juga Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan.

Atas dasar itulah kemudian Marniati harus menempuh program studi Magister Kesehatan dengan konsentrasi Manajemen Rumah Sakit di Universitas Sumatera Utara (USU) Akhirnya pendirian RS U’Budiyah bisa direalisasikan pada 25 Mei 2009, beberapa pulan setelah ia menamatkan program S-2 sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-28.

Di sela-sela kesibukannya memimpin STIKES U’Budiyah, wanita yang semasa kecilnya bercita-cita menjadi dokter ini acap mengisi waktu luangnya dengan membaca buku-buku bertema kepemimpinan (leadership) dan biografi tokoh-tokoh ternama dari kalangan negarawan maupun para pengusaha sukses. Aktivitas itu dilakukanya menggali inspirasi dan pengalaman dari mereka yang lebih dulu meraih kesuksesan dengan segala tantangan yang
 harus dilalui.

Marniati juga aktif melakukan berbagai inovasi dan terobosan untuk U’Budiyah, misalnya menggandeng kerja sama dengan berbagai institusi perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Hasil kerja sama itu antara lain dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dan Letter of Intent (LoI) yang memuat serangkaian program seperti kerja sama di bidang penelitian dan publikasi ilmiah, kerja sama antarperpustakaan, program double degree, beasiswa bagi dosen U’Budiyah, program TV digital dan cyber university.


Kinerja U’Budiyah selama satu decade terakhir akhirnya terakumulasi pada tahun 2013, tahun yang akan ditulis sebagai tahun prestasi U’Budiyah. Di mana pada saat yang hampir bersamaan U’Budiyah mampu meraih empat penghargaan masing-masing : (1) Certified Education and Educator Indonesia Award 2013 kategori The Best Inspiring Person of the  year dari Forum Rekor Indonesia kepada Ketua STIKES U’Budiyah; (2) Penghargaan Top 10 Most Trusted School kategori The most leadeing trusted Education School of the Year 2013 untuk STIKES U’Budiyah dan Ketua Yayasan U’Budiyah Indonesia Dedi Zefrizal ST dari Indonesia Achievement Centre (IAC), dan; (3) Penghargaan Platinum Indonesia 2013-2014 untuk RS U’Budiyah dari Pusat Rekor Indonesia. (4) Top Figure Innovative (5) Best Top Trusted School kategori The Best Favorite School of The Year.

Pencapaian yang ingin diraihnya ternyata tidak berhenti sampai di situ. Setelah lumayan lama berjibaku memperjuangkan peningkatan status STIKES U’Budiyah menjadi universitas sejak tahun 2007, kini Marniati boleh sedikit lega karena di tahun 2014 keinginan untuk mengupgrade U’Budiyah bakal segera terwujud. Izin operasional Universitas U’Budiyah Indonesia (UUI) bakal segera diterbitkan. Hal ini dimungkinkan setelah melalui proses panjang dari tahapan pengajuan proposal, presentasi dan visitasi dari tim Evaluator Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang berlangsung pada 21 November 2013 silam. Dengan perubahan status ini, nantinya UUI akan memiliki lima fakultas yang terdiri dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Teknik.

Baginya semua pencapaian yang diraih selama ini tak lepas lepas dari pertolongan Allah SWT, dukungan dan doa suami, orang tua dan sanak saudara serta kerja sama yang solid dengan civitas akademika STIKES U’Budiyah, STMIK U’Budiyah dan Rumah Sakit U’Budiyah. Ia bersyukur sebagai figur muda di dunia pendidikan di Aceh, dirinya mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan sumber daya manusia di daerah ini.

Ke depan ada sederet pekerjaan besar yang hendak dituntaskannya, pertama bagaimana mewujudkan visi menjadikan UUI menjadi World Class Cyber University pada tahun 2025; kedua, mencetak 30 persen dosen U’Budiyah bergelar Guru Besar; dan ketiga, menempatkan UUI dalam jajaran Top 10 Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia pada tahun yang sama.